Saturday, 30 June 2018

Sepenggal kisah dari adisana


Sepenggal Kisah dari Adisana


Apa yang terlintas di pikiran anda, ketika mendengar kata “Adisana”. Apakah yang terlintas di pikiran anda adalah sebuah desa di wilayah kecamatan Bumiayu yang identik dengan kekerasan. Apakah ada persepsi lain yang lebih baik tentang Adisana, misal desa Adisana identik dengan dunia pertanian. Atau desa Adisana identik dengan rel kereta api yang disitu terdapat Jembatan Sakalimalas. Memang pendapat seseorang mengenai Desa Adisana dapat berbeda-beda, semua itu dapat muncul dari pengalaman individu yang pernah mempunyai memori terhadap desa tersebut. Semua persepsi di atas memang di miliki oleh desa yang terletak di sebelah timur Bumiayu tersebut. Desa Adisana yang berbatasan langsung dengan desa Dukuhturi  dan Penggarutan di sebelah Barat dan dipisahkan oleh Sungai Keruh. Di sebelah Selatan berbatasan dengan desa Langkap, sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan desa Cilibur. Di sebelah Utara berbatasan dengan desa Benda dan Sirampog.
Tetapi dari kebanyakan orang mengenal desa Adisana, adalah karena identik dengan keributan yang dilakukan oleh para pemudanya. Adisana tidak melulu identik dengan keributan, di balik semua itu terdapat jasa yang patut dikenang oleh masyarakat Bumiayu dan sekitarnya. Mungkin ada yang bertanya-tanya, kejadian seperti apa yang membuat desa Adisana berjasa. Di desa Adisana terdapat sebuah jembatan kereta api, yang menghubungkan antara desa tersebut dengan dukuh Talok Dukuhturi. Nah semua itu bermula dan dimulai sejarahnya di Jembatan Sakalimalas yang legendaris di kalangan masyarakat Bumiayu. Jembatan yang dibangun mulai kira-kira tahun 1915 era kolonial Belanda, sebagai jalur kereta di daerah wilayah tengah. Secara historis pemerintah kolonial membuat jalur kereta api, untuk kepentingan industri gula.
Di mana ini berkaitan dengan sejarah Kabupaten Brebes, pembuatan jalur kereta api awalnya sebagai penunjang indusrti gula di wilayah brebes. Kalau sepanjang pantai (utara) Kabupaten Brebes terlintas oleh jalur jalan kereta api, itu dahulu milik maskape (perkumpulan) Belanda : Semarang-Cheribon-Stoomstram Maatschaapij disingkat : S.C.S. Dan pembuatan jalur kereta di pesisir utara, murni untuk pendukung trasnportasi pengangkutan tebu ke pabrik. Adapun jalur jalan kereta api yang melintasi diagonal (sudut-menyudut) kawasan Kabupaten Brebes, jurusan Purwokerto-Cirebon, itu dahulu milik pemerintah Hindia Belanda, di sebut : Staats- Spoor, disingkat S.S. Mungkin dari kata Spoor inilah orang Jawa menyebut kereta api dengan kata Sepur. Jadi dari sini secara historis sudah jelas, jalur rel kereta api di bangun oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan yang berbeda.
 Rel kereta api jalur tengah tentunya melewati wilayah Bumiayu, yang secara geografis adalah wilayah pegunungan dan lembah yang banyak sungai. Sehingga bisa dipastikan pembuatan rel harus membelah bukit dan membuat jembatan-jembatan. Hal ini dapat dilihat di jalur kereta di wilayah Bumiayu, terdapat jembatan besar kereta api yaitu jembatan Kali Pucung di Kalijurang dan jembatan Sakalimalas di Adisana. Dalam penulisan Artikel ini akan difokuskan pada salah satu peristiwa yang patut dikenang. Yaitu suatu peristiwa yang terjadi di jembatan Sakalimalas, dan melibatkan masyarakat Adisana yang heroik.
Jembatan Sakalimalas yang secara etimologis berasal dari bahasa Jawa. Yaitu dari kata Saka yang artinya tiang, pilar, penyangga dan limalas yang menunjuk pada jumlah angka yaitu lima belas. Jadi jembatan Sakalimalas sebagaimana kita tahu memang mempunyai tiang penyangga berjumlah 15(limabelas). Maka dari itu setelah jadi dan berdiri kokoh, jembatan tersebut dinamakan Sakalimalas. Jembatan tersebut membentang di tengah Kali Keruh, dan menghubungkan antara dukuh Talok dan desa Adisana. Karena Kali Keruh merupakan salah satu sungai tebesar di wilayah Bumiayu, maka dari itu jembatan Sakalimalas mempunyai tiang yang cukup banyak supaya kuat dan kokoh. Kali Keruh yang besar dan berarus deras, dapat menjadi ancaman bagi jembatan Sakalimalas. Dari cerita para orang tua yang kadang dibumbui mistis, Kali keruh ketika banjir memang dapat menghanyutkan apa saja. Hal ini memang terbukti dari keganasan Kali Keruh, dapat merobohkan satu tiang dari jembatan Sakalimalas.
Foto lama dengan background jembatan Sakalimalas tempo dulu
*Sumber Foto dari Bpk. Agus Taufik , Blere Adisana Bumiayu
Keterangan Foto: dalam foto tersebut merupakan para siswa SD jaya Angkatan awal, bisa dilihat dari seragam dan tidak bersepatu dan para guru termasuk dalam foto tersebut Bpk. Agus Taufik

Peristiwa robohnya salah satu tiang dari Sakalimalas, terjadi pada tanggal 8 Maret 1972. Tanggal kejadian tersebut dapat ditelusuri pada prasasti yang dapat dilihat di tembok SD Adisana I(SD Jaya). Waktu itu terjadi hujan yang sangat lebat dengan intensitas yang cukup lama, sehingga mengakibatkan Kali Keruh banjir. Hujan pada waktu siang sampai sore mengakibatkan Kali Keruh Banjir besar. Akibat arus yang cukup deras dan banjir yang cukup lama, mengakibatkan salah satu saka jembatan Sakalimalas roboh. Menurut cerita dari nara sumber yaitu bapak Agus Taufik, robohnya jembatan tersebut terjadi sekitar pukul tiga sore. Kebiasaan masyarakat desa Adisana, ketika Kali Keruh banjir besar selalu menengok atau menyaksikan banjir tersebut. Dari dulu Kali Keruh memang terkenal akan banjir besarnya, yang sering menghancurkan dan membuat desa-desa di pingiran kalikeruh harus waspada.
Akibat dari banjir tersebut maka salah satu tiang Sakalimalas roboh, dan tak lama kemudian diketahui oleh masyarakat Adisana. Masih menurut Bapak Agus Taufik, setelah di ketahui tiang itu roboh, beberapa perwakilan dari warga Adisana melaporkan ke pihak terkait. Pelaporan kejadian tersebut ke pihak kepolisian dan Stasiun Bumiayu. Tak lama setelah kejadian robohnya tiang tersebut, warga Adisana langsung menyaksikan dan menuju ke TKP, ingin melihat langsung bagaimana kondisi dari jembatan Sakalimalas. Menurut cerita narasumber tiang itu ambruk dan terpotong menjadi tiga bagian. Warga Adisana memenuhi tempat kejadian sekitar jembatan. Waktu itu gerimis masih turun, rel kereta api dipenuhi oleh warga yang ingin menyaksikan.

Mengetahui jembatan Sakalimalas terpotong, warga Adisana jiwa heroiknya muncul dan bersiaga menghentikan jika ada kereta yang akan melintas. Warga Adisana memenuhi sepanjang rel kereta yang melewati pinggir desa tersebut. Rel kereta dipenuh warga dari mulai sebalah jembatan sampai ujung timur. Tak berapa lama dari arah timur muncul kereta api bisnis, dan warga mulai beraksi mencoba memberikan kode peringatan dan teriakan-teriakan supaya kereta tersebut berhenti. Menurut cerita dari narasumber, pada mulanya kereta masih terus berjalan namun sudah melambat. Masinis dari kereta tersebut masih belum percaya dengan adanya kejadian tersebut. Masinis kereta baru percaya ketika ada warga yang secara sigap naik ke kereta yang berjalan lambat, dan memberi informasi langsung kepada masinis tersebut.
Setelah itu kereta tersebut berhenti di desa Adisana sebalah timur sebelum jembatan, tepatnya di sekitar Dukuh Mingklik Adisana. Masinis kereta tersebut kemudian turun dan meninjau langsung jembatan Sakalimalas yang roboh. Masih menurut cerita dari narasumber, ternyata gerbong kereta tersebut mengangkut para ABRI. Jadi kereta yang melintas tersebut membawa tentara atau TNI, bukan penumpang biasa. Setelah berhenti di Adisana, kereta yang membawa rombongan TNI tersebut mundur sampai ke stasiun Kretek Paguyangan. Melihat situasi jembatan yang tidak bisa dilalui, maka rombongan tersebut dilimpahkan menggunakan bis. Dapat dibayangkan jika kereta tersebut lewat maka akan terjun bebas ke Kali Keruh, berapa banyak nyawa yang akan melayang. Tidak diketahui mengapa kereta tersebut tetap lewat, padahal warga sudah melaporkan ke pihak stasiun. Mungkin karena jeda peristiwa ambruknya tiang dan lewatnya kereta tersebut cukup singkat. Sehingga tidak ada persiapan dari pihak stasiun, atau karena mungkin peralatan komunikasi perkeretapian terganggu akibat Sakalimalas ambruk.
Akibat jembatan Sakalimalas yang terbelah, maka aktivitas perjalanan kereta api di jalur tengah lumpuh total. Sebagaimana kita tahu, kejadian atau bencana yang besar mengundang rasa penasaran dari seseorang. Tak terkecuali robohnya tiang Sakalimalas mengundang rasa penasaran warga Bumiayu dan sekitarnya untuk menyaksikan langsung. Setelah tersiar kabar jembatan Sakalimalas ambruk, maka masyarakat Bumiayu dan sekitarnya antusias menyaksikan dan mengabadikannya dengan foto. Pada tahun tersebut hanya beberapa yang mempunyai kamera foto, maka dari itu untuk arsip visual dari kejadian tersebut sangat sulit dicari. Kemungkinan ada di kabupaten atau di arsip pusat perkeretaapian. Tetapi menurut cerita dari narasumer, banyak warga di Kecamatan Bumiayu bahkan dari luar Bumiayu seperti Ajibarang, menyaksikan langsung runtuhnya tiang Sakalimalas. Memang secara visual Sakalimalas mempunyai bentuk yang monumental, sehingga banyak menyita perhatian. 
Peristiwa ambruknya jembatan tersebut segera ditindaklanjuti oleh pemerintah, dalam hal ini adalah oleh Kementrian Perhubungan dan PT. Kereta Api Indonesia. Perbaikan segera dilaksanakan guna menunjang kelancaran transportasi darat. Perbaikan salah satu tiang tersebut, memakan waktu cukup lama sekitar tiga bulanan. Jadi selama proses perbaikan tersebut, jalur tersebut lumpuh total. Perbaikan salah satu tiang tersebut, tidak seperti bentuk yang semula tetapi diganti dengan bahan baku rangka baja. Ini dapat dilihat pada struktur jembatan Sakalimalas sekarang, dan bahkan sekarang pemandangan jembatan legendaris tersebut sudah berbeda. Sudah terdapat satu jembatan di sebelahnya, karena penambahan satu jalur menjadi dua jalur rel.
Dokumentasi foto asli proses perbaikan tiang jembatan Sakalimalas yang roboh akibat banjir
*Sumber Foto, Bpk. Agus Taufik , Blere Adisana

Setelah jembatan Sakalimalas selesai di perbaiki dan diganti dengan tiang rangka baja. Kemudian jembatan tersebut diresmikan oleh menteri perhubungan, yang pada waktu itu menjabat adalah Frans Seda. Peresmian jembatan Sakalimalas bersamaan dengan diresmikannya SD Adisana I(SD Jaya). Peresmian tersebut pada tanggal 16 Juni 1972, dan upacara peresmian tersebut berlangsung di halaman SD Adisana I. Menurut cerita dari Bapak Agus Taufik, peresmian tersebut berlangsung meriah dan ramai, terdapat layos dan panggung untuk acara seremonial. Jadi sebagai wujud dedikasi dan terimakasih kepada warga Adisana juga rakyat Bumiayu, maka pemerintah menganugerhkan Sekolah Dasar (SD). Sekolah Dasar tersebut merupakan sekolah pertama di kelurahan Adisana. Dan untuk ukuran tahun itu, sekolah tersebut merupakan Sekolas Dasar, yang secara infrastruktur sudah bagus dan baik di wilayah kecamatan Bumiayu.          
Warga Adisana dalam peresmian itu, dijamu dengan makan-makanan yang serba enak dan mewah (untuk ukuran pada tahun itu). Pada waktu peresmian tersebut PT. K.A.I, sengaja membawa makanan dengan kereta khusus untuk masyarakat Adisana. Dan kereta yang membawa makanan tersebut, berhenti tepat di samping SD Adisana I, bukan di Stasiun Bumiayu. Warga Adisana menikmati jamuan makan yang untuk ukuran tahun itu tergolong mewah dan istimewa. Warga dapat menikmati makanan dan minuman yang belum pernah dirasakannya. Makanan dan minuman kaleng yang istimewa dapat dinikmati gratis oleh warga Adisana. Seperti misalnya minuman berkarbonasi merk Sprite, minuman tersebut baru dirasakan warga Adisana pada waktu peresmian tersebut. Di mana pada waktu itu ekonomi bangsa dan penyebaran kemakmuran belum merata, sehingga untuk dapat menikmati makanan atau barang-barang yang mewah cukup sulit.
Itulah peristiwa yang heroik dari masyarakat Adisana, tentang ambruknya salah satu tiang jembatan Sakalimalas. Dengan kesadaran tinggi dan semangat kebersamaan, warga Adisana berusaha mengentikan laju kereta api yang membawa rombongan tentara. Dan sebagai bentuk dedikasi, pemerintah menganugerahkan Sekolah Dasar (SD), selain itu juga di buat patung sebagai peringatan akan penyelamatan kereta api tersebut. Patung tersebut sebagai bentuk simbolis penyelamatan yang dilakukan warga. Sosok patung tersebut merupakan pak tani yang telanjang dada dengan membawa cangkul di pundaknya. Dan tangan kanan Pak Tani diangkat ke atas sembari memegang baju dan melambai-lambaikannya, sebagai isyarat untuk menghentikan laju kereta api. Patung tersebut dulu letaknya di samping SD Adisana I dan menghadap ke timur. Tetapi patung Pak Tani tersebut sekarang sudah tidak ada, roboh dan termakan usia. Dari sudut pandang semiotika, patung tersebut menandakan masyarakat Adisana yang mayoritas dulu sebagai petani. Sedangkan gestur dari patung pak tani tersebut, menandakan sikap yang berusaha memberi sinyal bahaya kepada kereta api yang melaju.
Prasasati yang masih ada di SD jaya  sebagai bukti akan keberanian masyarakat bumiayu
*Prarsati masih dalam ejaan lama

Cerita tentang robohnya salah satu tiang Sakalimalas, masih dapat didengar dari para orang tua yang tinggal di lingkungan desa Adisana. Penulisan artikel ini sebagai bentuk kepedulian Komunitas Pecinta Sejarah Bumiayu (Kompas Boemi). Yang kedepannya berusaha mencatat peristiwa-peristiwa dan tempat bersejarah di lingkungan kecamatan  Bumiayu. Penulisan ini sebagai bentuk stimulus untuk dapat memicu, kepedulian kawan-kawan dari komunitas untuk dapat melestarikan sejarah di Bumiayu dan sekitarnya. Melalui fotografi, artikel, video atau bentuk lainnya cerita sejarah atau tempat bersejarah dapat dilestarikan. Dan untuk melengkapi penulisan artikel ini, maka dibuatkan ilustrasi sebagai pelengkap visual tentang kejadian robohnya tiang jembatan Sakalimalas. Ilustrasi ini dibuat karena keterbatasan sumber visual, semoga saja dapat menggambarkan peristiwa yang sesungguhnya. Semoga tulisan ini dapat memberikan informasi yang menarik kepada teman-teman Kompas Boemi.

Referensi :
·         Sejarah Kabupaten Brebes, Pemkab Brebes, 2011.
·         Wikipedia
·         Narasumber Bpk. Agus Taufik.






Tuesday, 16 February 2016

Gebyar Bumiayu Fair (GBF) Bumiayu




GEBYAR BUMIAYU FAIR (GBF) BUMIAYU
Sebuah Fenomena Budaya atau Hanya Pasar Malam Biasa”

Gebyar Bumiayu Fair (GBF) Bumiayu yang diadakan rutin setiap tahunnya, selalu dinanti masyarakat Bumiayu dan sekitarnya. Even tahunan yang diadakan di lapangan Asri Bumiayu, yang menampilkan beragam hiburan, dan aneka produk fashion hingga makanan semuanya ada di acara tersebut. Sebuah acara yang dikemas dalam konsep pasar malam, lengkap dengan wahana pendukung acara tersebut. Sehingga acara tersebut selalu ramai dikunjungi masyarakat Brebes selatan pada umumnya. Dalam catatan kecil ini akan dibahas pasar malam dalam kajian budaya.

Pasar Malam Dalam Peta Sejarah
Pasar malam, tentunya sudah tidak asing lagi di lingkungan kita, perhelatan yang diadakan di sebuah tempat yang luas dan terbuka diadakan pada malam hari. Di Bumiayu, sebuah kota kecil diwilayah selatan Kabupaten Brebes, juga terdapat pasar malam yang rutin diadakan tiap tahunnya. Gebyar Bumiayu Fair adalah tema besar yang di usung pemerintah setempat dalam membingkai acara tersebut. Pasar malam hampir setiap daerah ada, dan mempunyai ciri khas masing-masing. Sebagai contoh di Jakarta ada Pekan Raya Jakarta (PRJ), Sekaten ada di Jogjakarta, dan masih banyak pasar malam di berbagai kota di Indonesia.
Dalam peta sejarah, kemunculan pasar malam erat hubungannya dengan peyebaran agama Islam di pulau Jawa. Menurut sejarah bahwa kemunculan pasar malam di indikasikan, bermula di kerajaan Demak. Dimana pada waktu penyebaran agaman Islam di Demak dan tanah Jawa pada umumnya oleh para Wali Sanga. Wali Sanga dalam menyebarkan Islam di Jawa mengalami kendala, dikarenakan masyarakatnya masih menganut tradisi nenek monyang yang sangat kuat. Masyarakat Jawa pada umumnya masih menganut animisme dan dinamisme. Tradisi yang kuat dan sampai sekarang telah berakulturasi dengan agama Islam.
Sunan Kalijaga yang pada waktu menyebarkan ajaran Islam, dengan mengemas dakwahnya dengan budaya Jawa, yaitu salah satunya dengan gamelan. Dan dakwah tersebut dinamakan Sekaten yang sampai sekarang masih dilestarikan di Jogjakarta dan Surakarta. Dan acara sekaten merupakan acara yang diadakan pada malam hari, dimana pada waktu itu Sunan Kalijaga menampilkan gamelan sebagai media dakwah.  Dengan adanya gamelan yang bertaluan, maka masyarakat yang cinta dengan kebudayaan lokal bersemangat untuk datang. Media dakwah yang dikemas dengan akulturasi budaya Jawa, secara tidak langsung masyarakat menerima ajaran Islam yang di sampaikan Sunan Kalijaga.
Nah, pada acara Sekaten tersebutlah di indikasikan munculnya tradisi pasar malam, yang sampai sekarang telah berevolusi menyesuaikan dengan zaman. Tradisi sekaten di kerajaan Demak diselenggarakan untuk memperluas dan memperdalam agama Islam. Sekaten mulai di rayakan pada masa kerajaan Demak mulai berdiri yang dipimpin oleh Raden Patah. Kemudian, setelah kerajaan Demak runtuh, tradisi ini dikembangkan oleh kerajaan Pajang di bawah pimpinan Sultan Hadiwijaya. Demikian pula ketika kekuasaan Pajang runtuh, dilanjutkan oleh kerajaan Mataram Islam. Pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo (Raja Mataram ke-tiga) ditetapakan bahwa gamelan yang mengiringi sekaten adalah gamelan Kiai Gunturmadu dan Kiai Nagawilaga . Demikian sampai sekarang pun tradisi ini terus berlanjut, baik di Keraton Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta.
Itulah sekilas sejarah tentang pasar malam yang telah menjadi budaya hiburan dan budaya populer di lingkungan masyarakat kita. Dua Budaya yang berbeda yang telah berakulturasi dan menjadi budaya baru yang diterima masyarakat luas. Sampai sekarang tradisi Sekaten di Jogjakarta masih tetap lestari, menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Walaupun telah menyesuaikan dengan zaman, Sekaten tetap menekankan pada pada tiga komponen yaitu budaya, religi dan ekonomi. Jadi nilai budaya adiluhung tetap dipertahankan sampai dengan era sekarang.
 
Suasana bumiayu Fair yang ramai pengunjung
Bumiayu Fair Pagelaran Budaya atau Hanya Hiburan
Sebagaimana yang dijelaskan di atas, bahwa kemunculan pasar malam erat kaitannya dengan budaya dan nilai religius. Tetapi seiring dengan perkembangan jaman, dan perubahan pola pikir manusia. Maka pasar malam telah mengalami pergeseran dan menyesuaikan dengan masyarakat dan kondisi sekitarnya. Nuasansa budaya adiluhung dan religiusitas sudah tidak dominan dalam suatu perhelatan pasar malam. Tapi tidak semua pasar malam meninggalkan tradisi dan nilai-nilai lokal. Sekaten merupakan pasar malam yang sampai sekarang masih tetap bertahan dan melestarikan budaya lokal atau tradisi. Dalam Sekaten pentas seni pertunjukan di isi dengan pertujukan budaya populer dan tradisional. Jadi budaya lokal tidak benar-benar hilang, masih tetap bertahan di pasar malam yang dikemas modern.
lantas apa yang terjadi di pasar malam di Bumiayu, sebuah kota kecil di wilayah selatan Kabupaten Brebes. Di Bumiayu ada Gebyar Bumiayu Fair (GBF), yang dilaksanakan tiap tahunnya. GBF berlangsung di lapangan Asri, dan biasanya dilaksanakan selama dua minggu. Kalau dilihat dari segi sejarah, kemunculan Bumiayu Fair sekitar awal tahun 2000-an. Entah latar belakang yang mendasari dilaksanakannya Gebyar Bumiayu, memang perlu di kaji lebih dalam.
Pasar malam yang bertempat di lapangan Asri ini, dikemas dengan konsep seperti pasar malam pada umummnya. Yaitu pasar malam yang memperjualbelikan kebutuhan sandang dan pangan. Di Bumiayu Fair di dominasi pedagang pakaian, kuliner, alat rumah tangga, dan di samping terdapat stand dari instansi. Tetapi keberadaan stand dari instansi tersebut tidak terlalu dominan, masyarakat lebih berorientasi kepada belanja di banding apreasiasi atau edukasi. Masyarakat Bumiayu lebih antusias mengunjungi stand-stand baju dan kuliner, stand dari instansi yang menyediakan penyuluhan atau edukasi jarang mendapat perhatian. Disamping stand penjualan terdapat juga hiburan atau pertunjukan tiap malamnnya. Hiburan yang ditampilkan cenderung berorientasi pada nilai komersil dan kesemarakan. Dalam tulisan ini lebih ditekankan pada pokok bahasan hiburan atau seni pertunjukan yang ada di Bumiayu Fair.
Bentuk pertunjukan yang yang ditampilkan pada tiap malamya, hanya untuk menekankan pada hiburan belaka. Dalam konteks ini penyelenggara mungkin masih mempertimbangkan secara kwantitas, berdasarkan keramaian pengunjung atau penonton. Kwalitas dan keragaman pertunjukan pada tiap malamnya tidak menjadi pertimbangan penting. kenapa demikian, karena rangkaian pertunjukan dari setiap even Bumiayu Fair, terkesan monoton dan membosankan. Hal ini dapat dilihat dari tidak beragammnya jenis pertunjukan yang ditampilkan di panggung hiburan.
Dapat dilihat pada tiap malamnya panggung hiburan selalu di isi pertuntukan music dangdut dan band anak muda. Memang tiap malam beda penampil dan bahkan beda genre musik. Tetapi secara substansial pertunjukan tetap member tontonan populer yaitu dangdut dan band. Hal inilah yang membuat pertujukan di panggung gebyar Bumiayu Fair di tiap tahunnya menjadi monoton. Hendaknya pertunjukan di isi dengan seni-seni yang lain, pertunjukan tidak hanya pertunjukan music populer. 
Salah satu band yang tampil di Gebyar Bumiayu Fair (GBF)

Jika panitia jeli dan kreatif, tentunya akan mengemas pertunjukan yang variatif dan menarik. Dalam konteks ini variasi pertunjukan tidak hanya menampilkan music populer. Seni-seni pertunjukan lokal mungkin perlu juga ditampilkan.Seni pertunjukan yang ada di Bumiayu dan sekitarnya, harus ditampilkn dalam perhelatan pasar malam tersebut. Mungkin di wilayah Bumiayu terdapat seni pertunjukan yang masih murni, atau sudah berakulturasi dengan budaya luar. Sebut saja misalnya, keroncong, gambus, kasidah, marawis, genjringan, dagdog kaliwon, calung,  atau jenis tari-tari kreatif bisa ditampilkan.
Seni-seni pertunjukan di atas bisa ditampilkan di even Bumiayu fair. Selain untuk variasi pertunjukan, selain itu akan memunculkan eksistensi dari seni tersebut supaya lebih dikenal seluruh lapisan masyarakat. Lebih tepatnya adalah anak muda, supaya mengenal seni-seni tradisi yang ada di daerahnya.  Ajang Bumiayu Fair merupakan wadah yang tepat untuk menampilkan seni tradisional tersebut. Dikarenakan Bumiayu Fair merupakan even untuk masyarakat Bumiayu yang rutin diadakan tiap tahun dan gratis. Sehingga dengan tampilnya seni tradisi tersebut dapat member warna baru dan tentunya menghidupkan komunitas seni tersebut. Disamping juga bertujuan melestarikan jenis seni pertunjukan tersebut supaya bisa tetap eksis.
Peran pemerintah setempat dan panitia hendaknya dapat lebih kreatif dalam mengolah seni pertunjukan di even Bumiayu Fair. Selain bertujan melestarikan seni tradisional dan seni religius, disamping itu juga bertujuan untuk memunculkan keragaman seni yang ada di Bumiayu. Sehingga pentas seni yang ada di Gebyar Bumiayu Fair, menjadi lebih berwarna dan tidak terkesan monoton. Disamping itu pertunjukan seni-seni tradisi tersebut, dapat menekan ananarkisme atau keributan penontonnya. Karena dalam pertunjukn musik band atau dangdut yang digelar di Bumiayu Fair, sering memancing keributan para penontonnya.
Berbicara mengenai apresiasi penonton, yang ada di Bumiayu fair dari tahun ketahun memang selalu ada kejadian anarkis. Terutama pada pertunjukan dangdut, yang selalu diwarnai keributan di tiap malamnya. Penyebabnya klise, yaitu terjadi senggolan di antara sesama yang joget. Dalam pengamatan saya, kejadian anarkis tersebut biasanya dipengaruhi oleh miras yang dikonsumsi oleh penonton dangdut. Di sisi lain, faktor dari attitude dari tiap person dan juga tren apresiasi dalam musik dangdut selalu identik dengan keributan. Hal tersebut di atas menjadi cacatan negative even Bumiayu fair yang di adakan setiap tahunnya.
Dengan hadirnya musik tradisi dan religi bisa meminimalkan , hal-hal yang berujung negative. Pasar malam yang tidak hanya mengejar reputasi kwantitas dan kesemarakan belaka. Isi sekaligus bobot dari sutau even pasar malam menjadi bahan pertimbangan utama. Sehingga nantinya Bumiayu Fair mempunyai trademark, menjadi pasar malam yang berbudaya yang tidak hanya mengejar keramaian dan nilai kapital. Sehingga pertunjukan tersebut juga tidak lepas dari nilai-nilai kearifan budaya lokal, yang tentunya harus selalu terjaga dan dilestarikan. Ajang Bumiayu Fair dapat menjadi arena pertunjukan yang ideal, sehingga seni tradisi yang ada di Bumiayu dan sekitarnya dapat selalu lestari.[]

Salam Budaya”











Sunday, 25 October 2015

Peradaban Yang Hilang di kali Keruh Blere



Peradaban yang Hilang di Kali Keruh Blere

Ada yang berubah pada Kali Keruh-ku, ketika siang menjelang sore kususuri jejak masa kecil di aliran Kali Keruh sebelah barat Blere. Mengingat masa kecil dulu, ketika pada waktu pagi, dan sore atau bahkan siang saya dan teman-teman bermain di kali keruh yang mengasikan. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan usia, kini kali keruh tidak lagi sebagai salah satu tempat peradaban manusia desa.

Dalam pandangan visual saya Kali Keruh-ku serasa idah dan tenang, tetapi jauh dari peradaban manusia modern. Kali Keruh yang dulu sebagai tempat bermain anak-anak desa, tempat beraktivitas manusia, kini telah lengang , tenang dan seolah dingin dari jamahan manusia nya. Teringat masa kecil saya dulu ketika setiap sore kali Keruh menjadi tempat yang paling mengasikan untuk bermain air. Sepulang dari Sekolah Madrasah, saya pulang dan tanpa menunggu lama saya langsung menuju Kali Keruh. Di Kali Keruh teman-teman sudah berkumpul ramai mandi dan bermain di Kedung Kali Keruh. Dan air sungai yang keruh menjadi teman yang mengasikan dan hangat untuk bermain air. Di Kedung tersebut merupakan arena untuk bersosialisasi dan bermain yang mengasikan. 


Mandi di Kedung sekaligus tempat bermain dan bersosialiasai yang mengasikan. Permainan air yang kreatif membuat saya dan teman-teman lupa waktu. Jenis permainan air yang akrab dengan kami seperti anjlog, nyilem, renang, keli-kelian, rakit kedebogan, udag-udagan, pelampung ban dalem, permainan sarung, dolanan wedi, dll. Dengan asiknya permaian tersebut kadang juga mengundang resiko. Resiko dari permainan air tradisional seperti kaki terbentur batu, kuping kemasukan air, terkena cakaran kuku teman, atau bahkan hanyut tak bisa kami hindari. Dengan banyaknya permainan air tersebut, hingga kami kadang lupa waktu pulang. Dimana pada waktu itu matahari hampir tenggelam dan airpun semakin dingin baru timbulah hasrat pulang. Kami pulang dengan hati senang, dengan kondisi mata merah, tubuh busik, dan rambut kering dan kasar. Namun semuanya tidak membuat kami berhenti untuk membuat  peradaban kecil di kali Keruh.

Permainan tersebut di atas sangatlah akrab dengan kami anak-anak Blere pada waktu itu (era 90-an). Kali Keruh tidak hanya untuk bermain, keruhnya air membuat tempat petualangan yang menarik dan menatang. Kali Keruh menjadi ajang untuk berburu ikan, dengan berbagai cara. Tentunya dengan mennggunakan alat-alat tradisional, seperti seser, sosog, pancing, dan ngrogoh. Pada waktu itu ikan Kali Keruh masih banyak, dan sehingga tidak terlalu sulit untuk mencarinya. Jenis ikan yang ada di habitat Kali Keruh, seperti benter, uceng, kekel, urang, atau bahkan melem pun masih ada. Tidak tahu kalau kondisi sekarang, di mana sekilas Kali Keruh tidak menampakan adanya kehidupan air yang cukup signifikan. Mungkin masih ada ikan-ikan Kali Keruh, tetapi sudah berkurang tidak seperti dulu lagi. Kondisi Kali keruh yang mengalami pendangkalan, dan juga ekosistem yang rusak karena ulah manusianya.

Disamping sebagai tempat untuk bermain dan berpetualang, kali keruh juga sebagai aktivitas masyarakat Blere pada waktu itu. Kali keruh menjadi tempat peradaban air bagi masyarakat sekitar. Aktivitas seperti mencuci baju, mencuci piring, mandi, pengairan sawah dan kebun rutin dilakukan pada pagi ataupun sore hari. Apalagi ketika musim kemarau melanda, aktivitas kali keruh di barat Blere semakin ramai dan semarak. Tetapi seiring denga kemajuan jaman, dan semakin padat dan laju aktivitas menusianya maka Kali Keruh-pun terlupakan. Disamping itu, dengan semakin muadahnya mendapatkan air dari Perusahaan Air Minum (PAM). Sehingga aktivitas sosial di Kali Keruh perlahan tapi pasti ditinggalkan oleh masyarakat sekitar.

Kini aktivitas peradaban kecil di sebuah sugai semuanya telah hilang dan sirna, sebuah peradaban Kali Keruh yang menumbuhkan semangat, solidaritas, nilai sosial, dan juga kegembiraan. Kali keruh sekarang menjadi sepi, dingin, rimbun, asing, senyap,bahkan terksesan angker. Jamahan manusia yang menimbulkan perdaban kecil, telah jauh atau bahkan lupa terhadap alam yang bersahabat. Kemajuan teknologi membuat manusia menjadi dingin terhadap alam, manusia modern lebih intim dengan dunia digital. Mesin simulasi yang hampir mendekati nyata, menjauhkan anak-anak dari alam. Tidak ada lagi istilah “ Anak Kali Sekarang” , yang ada adalah “Anak Game On Line Sekarang”. Anak-anak sekarang menjadi asing dengan alam sekitar, bahkan mereka lupa bahwa Kali Keruh merupakan tempat belajar dan bermain yang mengasikan.
“Ayo Kita ke Kali Keruh”

Jejak Hindu di Bumiayu

Menelusuri Jejak Hindu di Bumiayu Bumiayu merupakan kota kecamatan yang terletak di selatan Kabupaten Brebes. Bumiayu dalam perkemba...